Entry: Lebih Dekat Mengenal Ananda (1-bersambung) Aug 30, 2006



Cerewet dan Jahil di Waktu Kecil

     

Ananda, begitulah nama lengkap Duta Kalsel, peraih gelar Runner Up 1, dan tiga gelar lainnya di Malam Penobatan Pemilihan Puteri Indonesia 2006, beberapa waktu lalu. Sama halnya dengan yang lain, Nanda—sapaan akrab Ananda, red—juga pernah melewati masa kecil. Nah, bagaimana masa kecil puteri tunggal pasangan Ir H Noor Ahmad NH dan Dra Hj Nurwana tersebut? Berikut ulasannya.

 

KHAIRIL ANWAR, Banjarmasin

 

SETELAH Sekitar sembilan bulan sembilan hari dalam kandungan, Nanda terlahir ke dunia pada 3 Juni 1984 silam, tepatnya pada hari Minggu pukul 11.00 Wita, di rumah ayah dan ibunya, Jalan Simpang Belitung Banjarmasin.

Kehidupan Nanda yang terlahir dengan panjang 51 Cm dan berat 3,55 Kg, atas bantuan seorang bidan bernama Uni Antang itu berjalan layaknya kebanyakan orang.  Namun yang hebat, sejak usia TK, Nanda sudah sering diajak sang ayah keliling ke luar kota, daerah, bahkan luar negeri seperti Tokyo, Jepang. Sampai-sampai, Nanda pun pernah diajak sang ayah berangkat ke Mekkah pada 1992 dan 1994.

"Sebagai pelaku bisnis, saya sering berangkat keluar kota bahkan luar negeri. Biasanya, kalau saya berangkat itu, saya selalu mengajak Nanda. Apalagi, Nanda merupakan anak kami satu-satunya," kata Ir H Noor Ahmad NH (ayah Nanda, red) yang khusus diwawancarai wartawan koran ini, kemarin.

Ahmad mengungkapkan, Nanda kecil adalah seorang anak yang kreatif, pantang menyerah, dan selalu ingin tampil atau menonjol di kelompoknya. Suatu ketika, Nanda pernah meminta ibu gurunya duduk ke belakang, lalu dengan penuh percaya diri, Nanda duduk di bangku ibu guru, dan berlagak seperti seorang pengajar.

"Kalau tidak dituruti, Nanda biasanya menangis. Jadi, mau tak mau, sang ibu guru pun harus menuruti keinginannya," kenang Ahmad.

Di samping itu kata Ahmad, Nanda juga memiliki rasa keingintahuan yang sangat kuat. Tak heran, hari-harinya selalu ia lewati dengan mencari ilmu pengetahuan. Baik melalui buku, maupun dengan membuka internet.

"Kami sebagai orangtua sangat senang melihat sifat Nanda yang seperti itu. Oleh karenanya, kami selalu menyempatkan diri untuk memberikan ilmu pengetahuan tambahan kepada Nanda. Kalau kebetulan saya di luar kota atau luar negeri, saya biasanya membantu Nanda belajar melalui telepon atau faximile," sambung penyuka tenis meja ini.

Ditambahkan Ahmad, sejak kecil Nanda tergolong orang tak suka menyia-nyiakan waktu. Selain itu, Nanda pun dikenal sebagai anak yang aktif, hingga bisa dikatakan waktu istirahatnya itu hanya ada pada saat ia tidur.

Meski dilahirkan di keluarga yang penuh kasih sayang, Nanda paling anti disebut "anak mami" atau anak manja. Ia lebih memilih hidup mandiri dengan kerja kerasnya sendiri. "Hingga sekarang, ketidaksukaannya disebut anak manja itu masih melekat dalam diri Nanda. Sampai-sampai, Nanda lebih memilih menyetir sendiri setiap berangkat ke kampus," jelas Ahmad.

Ditanya mengapa dulunya Nanda hanya diberi nama yang sangat singkat (seperti diketahui, nama lengkap Nanda adalah Ananda, red), Ahmad mengungkapkan bahwa pada saat Nanda dilahirkan dulu, sang ibu, Hj Nurwana senang dengan seorang anak kecil bernama Ananda. Ketika itu kata Ahmad, anak kecil tersebut tampak memiliki budi pekerti yang baik. "Atas pertimbangan itulah, anak kami juga kami beri Ananda," terang Ahmad yang sudah tiba di Banjarmasin Minggu malam kemarin.

Sementara itu, Hj Nurwana yang hingga kini masih menemani Nanda di Jakarta mengungkapkan, Nanda adalah anak yang cerewet, cengeng, suka make-up, dan suka usil. Di samping itu cerita Nurwana, Nanda kecil sering kali mengekspresikan apa yang ia cita-citakan. Sebagai contoh, Nanda yang dulunya bercita-cita menjadi seorang reporter, setiap pulang sekolah, Nanda selalu nodongin ujung sapu ke arah ibunya. Tanpa basa-basi, Nanda kemudian melakukan tanya jawab dengan sang ibu, layaknya seorang reporter yang melakukan wawancara dengan narasumbernya.

"Nanda yang suka make-up sering pula ngejahilin tantenya. Pernah, tantenya di make-up habis-habisan, dengan perintah tak boleh dihapus sebelum saya pulang kerja. Kalau tantenya membantah, maka Nanda menangis keras. Alhasil, tantenya pun terpaksa menahan make-up tebal berjam-jam hingga saya kembali dari kantor," kenang pegawai Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel itu dibarengi tawa kecil mengingat kejahilan puteri tunggalnya.

Ketika ditanya mengenai prestasi Nanda yang hanya menjadi Runner Up 1 Puteri Indonesia, baik Ahmad maupun Nurwana mengaku tak kecewa sama sekali. Sebaliknya, mereka malah bersyukur karena Nanda tak menjadi pemenang utama Puteri Indonesia. Karena kata Ahmad, kalau Nanda menjadi pemenang utama, Nanda otomatis harus mengikuti Miss Universe dimana Pemilihan Miss Universe itu mengharuskan pesertanya melewati sesi swimsuit atau busana renang.

"Kami sangat bersyukur, bahkan ikhlas dunia akhirat. Karena kalau misalnya Nanda meraih juara pertama lalu berkompetisi ke Miss Universe dan melalui sesi swimsuit. Waduh, mau ditaruh dimana muka kami. Apalagi, masyarakat Kalsel adalah masyarakat agamis, yang tentunya tak akan rela jika dutanya harus berlaga dengan busana yang pamer aurat. Jujur, saat Nanda menggunakan gaun malam pada Pemilihan Puteri Indonesia kemarin saja, kami merasa sangat berat. Apalagi, Nanda sendiri sudah bergelar Hajjah," tandas Ahmad.(bersambung)

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments