Entry: Mengunjungi Jakarta di Tengah Ketidaktahuan Aug 6, 2006



Ongkos Taxi Diminta Dua Kali Lipat!

 

RABU Pagi hingga Jumat malam kemarin (2-4 Agustus 2006), saya mendapat kesempatan berangkat ke Jakarta. Tentunya, bukan untuk jalan-jalan ato berholiday ria. Melainkan untuk menjalankan salah satu tugas kewartawanan saya.

Bagi sebagian orang, berangkat ke Jakarta merupakan hal yang biasa. Namun bagi saya pribadi, berangkat ke Jakarta adalah suatu hal yang sangat luar biasa. Terlebih, keberangkatan itu merupakan keberangkatan pertama saya ke Kota Metropolitan tersebut.

Saya yang saat itu berangkat dengan salah seorang wartawan lain dari Kota Banjarmasin ini, tiba di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 07.30 WIB. Ketika itu, kami sempat dibuat bingung. Lantaran, jemputan yang kami tunggu-tunggu tak kunjung datang.

Ingin berangkat sendiri, kami tak tahu tujuan yang pasti. Alhasil, bingunglah yang kami rasakan saat itu. Setelah satu jam menunggu jemputan yang tak jua datang, kami kemudian menghubungi pihak yang mengutus kami dari Banjarmasin melalui telepon selular. Oleh pihak pengutus, kami diperintahkan untuk menuju Grand Hyatt Hotel, Jakarta. "Pokoknya, panggil saja taxi, kemudian minta antarkan ke Grand Hyatt. Mengenai biaya jangan khawatir, nanti saya ganti setelah balik ke Banjarmasin," kata sang pengutus kepada kami.

Mendengar jaminan penggantian biaya, kami pun tanpa ragu memanggil taxi. Tanpa basa-basi, kami masuk taxi lalu meluncur. Beberapa menit kemudian, kami baru tersadar bahwa taxi yang kami tumpangi bukan taxi argo. Kami pun langsung menanyakan berapa ongkosnya. Alangkah terkejutnya kami ketika si sopir taxi bilang "Rp150 ribu saja". Wow, nyebut Rp150ribu, pak sopir pake nambahin kata "saja".

Namun, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Mau turun udah nggak bisa lagi. Akhirnya, ya sudah kami tetap naik tuh taxi, dengan pertimbangan bahwa bayarnya juga bukan dengan uang pribadi kami (he…he…).

Perjalanan lumayan seru. Melewati jalan tol dengan view gedung-gedung bertingkat yang tinggi menjulang. Namun, di tengah perjalanan, telepon selular teman seperjalanan saya berbunyi. Setelah diangkat, ternyata informasi terbaru, tempat kami menginap bukan di Grand Hyatt Hotel, melainkan di Hilton Hotel. Akhirnya, taxi pun berputar arah (saya juga nggak ngerti kenapa berputar. Apakah memang beda jalur, ato hanya akal-akalan sang supir). Untungnya ketika kami tanyakan masalah ongkos, si sopir bilang tetap saja. Yakni Rp150 ribu. 

Setelah melakukan perjalanan yang lumayan melelahkan, ditambah kemacetan lalu lintas yang cukup menjengkelkan. Akhirnya, kami sampai jua di hotel yang di maksud. Pas turun dari taxi, kami dikejutkan dengan permintaan pak sopir yang ingin ongkosnya ditambah Rp50 ribu. "Lho, bukannya tadi bapak bilang harganya tetap. Kok malah minta tambah sih pak," kata kami. "Tadi khan macet mas. Jadi, harap maklumlah," jawabnya santai.

Kasian dengan pak supir, kami pun menambahnya. Namun, tak sesuai dengan permintaan. Melainkan hanya dengan menambahkan sejumlah uang receh yang ada di saku kami. Ya, mungkin sekitar delapan ribuan saja lah. Untungnya pak sopir nggak begitu cerewet. Kalo cerewet, udah pasti uang tambahan yang tadi kami kasihkan bakal kami tarik lagi. Nangis…nangis deh tuh sopir…he….he…

Diantara penyesalan dan pengalaman, kami berusaha menikmati Jakarta di tengah ketidaktahuan kami. Mengapa kami bilang menyesal, karena kata teman-teman yang dari bandara naik taxi Argo, untuk sampai ke Hilton Hotel itu cukup ngeluarin ongkos sekitar Rp70 sampe Rp80ribuan saja, tidak Rp150 ribu, plus tambahan seperti yang kami alami. Huaahhh…Jakarta…Jakarta… Tak jauh beda dengan di Banjarmasin, dimana masih banyak orang yang memanfaatkan ketidaktahuan orang lain untuk meraih keuntungan pribadi. (khairil_anwar)

   1 comments

sisca
August 6, 2006   10:32 AM PDT
 
Kebangetan sekali taksinya...tp ada baikknya nomor taksi tersebut di catat kemudian di sampaikan kepada penggelola taksi, barangkali itu cuma supir cadangan.

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments