Khai_ril
Seorang remaja yang terus berusaha untuk mencari jati diri dan makna hidup yang sesungguhnya.
Terlahir di Banjarmasin, 13 Desember 1986 silam.
Hidup dari keluarga sederhana yang Alhamdulillah selalu mendapat limpahan rezeki dari Allah SWT.
Suka bertualang, bercanda, dan ngumpul bareng teman-teman di skul or kampus.
Bercita-cita sukses dan bisa membahagiakan orangtua serta orang-orang yang ada di sekitar.
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Jul 13, 2006
Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (4)

Dendam dengan Pangeran Antasari, Masjid Dihanguskan

 

 

Di Desa Banua Halat Kiri Kecamatan Tapin Utara yang berjarak sekitar 2 Kilometer ke arah barat dari Kota Rantau, sebuah masjid tua bernama Masjid Al Mukarromah berdiri dengan kokohnya. Nah, masjid yang kabarnya berdiri sejak zaman penjajahan Belanda itulah yang menjadi menjadi lokasi keempat yang dikunjungi peserta Lawatan Sejarah Daerah Kalsel 2006 gelaran Disbudpar Kalsel dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.

 

 

 

PERJALANAN Menuju Masjid Al Mukarromah tersebut merupakan perjalanan yang sangat melelahkan. Betapa tidak, dari tempat kunjungan ketiga, yakni Pandulangan Intan di Desa Pumpung Banjarbaru, perjalanan menuju masjid tersebut berjarak sekitar 90 Kilometer. Tak heran, peserta yang tadinya melek pun, berubah menjadi banyak yang ketiduran. Tak terkecuali saya sendiri yang duduk disamping Pak Sopir.

Perjalanan semakin melelahkan, karena ketika menuju masjid tersebut, kedua bus yang kami gunakan sempat bolak-balik lantaran tak tahu persis dimana Masjid Al Mukarromah tersebut. Setelah tanya sana, tanya sini kepada masyarakat sekitar, akhirnya kami tiba di tempat tujuan dengan selamat, meski sedikit molor dari waktu yang ditetapkan.

Di Masjid Al Mukarromah tersebut, kami disambut hangat pihak Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin, serta pengelola masjid dan masyarakat sekitar.

Setelah cuci kaki, wudhu, lalu melaksanakan Salat Ashar, seluruh peserta pun diberi arahan dan penjelasan mengenai sejarah Masjid Al Mukarromah tersebut. Saya yang tak ingin ketinggalan informasi turut berbaur dengan peserta yang merupakan perwakilan siswa-siswi dan guru sejarah di SMA/SMK se-Kota Banjarmasin, seperti SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7 Plus, SMKN 1, dan SMKN 3 Banjarmasin.

Oleh Drs H A Gazali Usman, salah seorang pengelola masjid yang dulunya juga tercatat sebagai salah seorang dosen di Unlam Banjarmasin, seluruh yang berada di ruang induk masjid dengan arsitektur khas tradisional Kalimantan itu dijelaskan bahwa bangunan masjid yang ada sekarang merupakan hasil pembangunan kembali.

Dulunya, di lokasi pembangunan masjid tersebut memang ada sebuah masjid. Namun, masjid tersebut hangus terbakar setelah diserang tentara Belanda pada masa Perang Banjar di tahun 1962.

Dijelaskan Gazali, serangan tersebut merupakan serangan balasan tentara Belanda, atas penyerbuan pasukan Banua Ampat/ Muning yang dipimpin Pangeran Antasari ke Benteng Tambang Batubara Oranje Nassau di Pengaron pada tahun 1859.

“Ketika itu, seluruh bagian masjid hangus terbakar, terkecuali sebuah tiang yang masih utuh dan dikeramatkan hingga sekarang. Coba lihat tiang di sebelah sana, ada bekas terbakarnya khan?,” tanya Gazali kepada peserta sembari menunjuk sebuah tiang yang ada di sebelah kiri belakangnya.

Mengenai pembangunan kembalinya, Gazali memperkirakan pembangunan tersebut dilaksanakan pada tahun 1331 H atau tahun 1910 M. Perkiraan itu dikatakan Gazali berdasarkan inskripsi berhuruf Arab Melayu yang dipahatkan pada tiang-tiang utama (Soko Guru) dan tiang-tiang penunjang. Di tiang-tiang tersebut terdapat angka tahun dan nama-nama penyumbangnya.

Pada pembangunan tahap pertama pada tahun 1910 tersebut, dijelaskan bahwa Masjid Al Mukarromah dibangun dengan kontruksi panggung berlantaikan kayu jati. Setelah itu, pada tahun 1935, lantainya direnovasi lagi dengan ubin berhias. “Keterangan itu diperoleh dari iskripsi yang terdapat pada salah satu tiang utama yang berbunyi melantai pada tanggal 28-4-35,” jelas Gazali.

Keunikkan masjid ini terlihat pada saat bulan Maulid, tepatnya pada 12 Rabiul Awal yang merupakan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal tersebut, masyarakat Kalsel berbondong-bondong melaksanakan Ayun Maulid dengan harapan anak yang mereka ayun mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW, dan menjadi anak yang shaleh serta berbakti kepada kedua orangtua. Menariknya, yang me-ayun anak pada pelaksanaan Ayun Maulid itu bukan hanya dari masyarakat kawasan masjid, melainkan ada yang sengaja datang dari luar kota.

“Kami juga tidak mengetahui persis mengapa masjid ini dijadikan pusat untuk pelaksanaan acara Ma-ayun Anak. Yang pasti dulunya, di sekitar masjid ini, masyarakat sering melaksanakan acara Ma-ayun Anak dengan berbagai persembahan untuk bidan. Karena tidak ada unsur islami, oleh para ulama saat itu, acara Ma-ayun Anak di arakan ke masjid dengan maksud agar anak mengenal masjid sejak dini, sekaligus mengenal hari kelahiran Nabi Muhammad SAW,” papar Gazali.

Sementara itu, Citra Auliani siswi SMA Negeri 7 Plus Banjarmasin, mengaku senang bisa berkunjung ke masjid tersebut. “Arsitektur masjid ini unik dan jarang sekali ditemui di Banjarmasin. Ternyata di Kalsel banyak sekali tempat wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Oleh karenanya, saya pesankan kepada seluruh pelajar atau siapa saja, dari pada kunjungan wisata ke luar daerah, mendingan ngunjungin yang ada di daerah sendiri dulu. Karena ya itu tadi, di daerah kita ternyata juga banyak tempat wisara yang menarik untuk dikunjungi,” tandas cewek berkaca mata minus itu.

Usai mendengar penjelasan serta menikmati sedikit suguhan kue khas Banjar, saya, panitia, dan seluruh peserta pun bersiap meninggalkan masjid untuk selanjutnya berisitrahat di Hotel Bangkau Kandangan yang berjarak sekitar 25 Kilometer dari Masjid Al Mukarromah, Rantau.

Tanpa basa-basi, setelah tiba di Hotel Bangkau sekitar pukul 19.00 Wita, seluruh peserta yang sebelumnya menunaikan Salat Magrib dan Isya pun langsung beristirahat guna mempersiapkan diri melanjutkan lawatan ke beberapa tempat bersejarah lainnya, setelah pagi menjelang. (bersambung)


Posted at 06:16 am by khai_ril
Make a comment  

Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (3-bersambung)

Lihat si “Galuh”, Antara Kagum dan Sedih!

 

 

Terik matahari yang menyengat tak menyurutkan keinginan peserta Laseda Kalsel untuk tetap melanjutkan perjalanan. Dengan semangat menggebu, mereka memasuki bus yang selanjutnya membawa mereka ke lokasi pendulangan intan di Desa Pumpung, Banjarbaru yang berjarak sekitar 15 Km dari Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Apa saja yang dilakukan peserta Laseda di lokasi pendulangan tersebut, berikut ceritanya!

 

 

RABU Siang (5/7), sekira pukul 13.30 Wita. Seusai melihat-lihat koleksi benda bersejarah, lalu makan siang, dan Salat Zuhur di kawasan Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru, peserta Laseda Kalsel berangkat menuju lokasi pendulangan intan di Desa Pumpung Banjarbaru.

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, dua bus rombongan peserta pun akhirnya tiba di  lokasi pendulangan. Tanpa dikomando, para peserta langsung  turun dari bus dan langsung berhamburan menyaksikan aktifitas para pendulang intan. Ada yang menyaksikan para pendulang yang menggunakan mesin, namun tak sedikit pula peserta yang memilih hanya menyaksikan aktifitas para pendulang intan yang menggunakan peralatan tradisional.

Satu pemandangan unik namun menyedihkan. Unik karena pemandangan itu memang langka dan tak bisa dilihat di daerah lain, terkecuali di lokasi pendulangan. Namun menyedihkan, karena aktifitas para pendulang intan yang menggunakan mesin, bisa dikatakan sebagai aktifitas yang merusak alam.

Betapa tidak, untuk mendapatkan “si galuh” nan berkilau, para pendulang intan itu, mencarinya hingga ke dasar tanah yang terdalam. Tanpa segan mereka membuat galian dengan mesin hingga kawasan pendulangan intan itu menjadi kawah besar yang dalamnya berpuluh-puluh meter. 

 

 

“Jujur saja, perasaan saya campur aduk ketika mengunjungi lokasi pendulangan intan itu. Di satu sisi, saya merasa kagum dengan anugrah Allah SWT yang menyediakan berbagai kemewahan dari alam hingga manusia bisa menikmatinya. Di sisi lain, saya sedih, karena untuk mendapatkan anugrah yang diberikan Allah itu, manusia tak segan-segan merusak alam,” ujar Rendy Hidayat, salah seorang siswa SMA Negeri 1 Banjarmasin.

Mendulang intan dengan menggunakan mesin, memang lebih menguntungkan ketimbang menggunakan peralatan tradisional.  Namun, kalau dinilai dari segi keunikan, tentu cara bekerja dengan menggunakan peralatan tradisional-lah yang paling unik. Lagi pula, cara tradisional tak terlalu merusak alam.

Menariknya, ada beberapa ritual khusus yang sering kali dilakukan oleh pendulang intan dengan peralatan tradisional tersebut. Biasanya, sebelum berangkat bekerja dan mulai menggali, mereka menggelar selamatan.

Kemudian, untuk menentukan kawasan mana yang akan mereka dulang, kebiasaan para pendulang intan menanyakannya terlebih dahulu kepada “orang pintar” atau ulama  yang memang dianggap mampu mendeteksi keberadaan “si Galuh” (sebutan orang Banjar terhadap intan, red).

Hal menarik lainnya, ketika intan didapatkan, intan tersebut langsung dimasukkan ke dalam mulut lalu diisap atau “dikucup”. Ada yang mengatakan, hal itu sengaja dilakukan agar intan yang sudah didapatkan tidak lenyap begitu saja. Karena, sebagian masyarakat pendulang intan mempercayai bahwa intan sangat erat dengan alam gaib. Sehingga, kalau tidak “dikucup” terlebih dahulu ketika didapatkan, intan tersebut bisa lenyap karena diambil kembali oleh makhluk alam gaib.

Sekadar diketahui, aktifitas para pendulang intan di kawasan Desa Pumpung Kecamatan Cempaka Banjarbaru itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun bahkan ratusan tahun lalu.  Pada tahun 1960, di kawasan tersebut pernah digunakan peralatan dari luar negeri. Namun, asilnya tak memuaskan. Dan para pendulang intan pun kembali memilih cara tradisional. Alasannya, cara tradisional lebih membuahkan hasil. Karena menurut kepercayaan para pendulang intan yang menggunakan cara traidisonal, intan intan atau “si galuh” itu baru bisa didapatkan apabila pendulangnya ikhlas dan bekerja dengan lembut. “Galuh itu perlu dielus dan dimanja,” ujar Suriansyah, salah seorang pendulang yang sudah menggeluti pekerjaannya selama 35 tahun.

Diceritakan Suriansyah, sekitar sepuluh tahun lalu, ia pernah mendapatkan intan seukuran batu kerikil. Dari hasil penjualan intan itu, Suriansyah pun berhasil meraup uang tunai sampai Rp19 juta.

“Itu intan terbesar yang pernah saya dapatkan. Selebihnya, saya hanya mendapatkan yang kecil-kecil yang jualannya sekitar satu atau dua juta saja. Tak jarang, saya pun hanya mendapatkan intan lantakan (intan berukuran sangat kecil yang biasanya digunakan untuk susuk, red) yang harganya sangat murah. Ya, hanya puluhan ribu Rupiah saja  lah,” ujar pria berusia 45 tahun itu.

Puas melihat langsung proses pendulangan intan, peserta pun bersiap kembali memasuki bus untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat ke empat, yakni Masjid Al Karomah di kawasan Rantau. Tapi sebelum itu, peserta terlebih dahulu membeli berbagai batu-batuan nan cantik yang ditawarkan oleh warga pendulangan. Ada yang membeli batu kecubung nan bening, ada yang membeli batu akik dengan harga yang sangat murah, namun ada pula yang sekedar lihat-lihat saja. (bersambung)


Posted at 06:01 am by khai_ril
Make a comment  

Jul 10, 2006
Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (2-bersambung)

Ada Koleksi Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari

 

SETELAH Kurang lebih satu jam melihat dan mendengarkan penjelasan berbagai benda bersejarah di Museum Wasaka Banjarmasin, peserta Laseda Kalsel langsung menuju Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Apa saja yang dilihat di sana?

 

 

 

KOTA Banjarbaru merupakan kota kedua dari empat kota yang dikunjungi peserta Lawatan Sejarah Daerah (Laseda) Kalsel. Di Kota Banjarbaru tersebut, seluruh peserta yang merupakan perwakilan dari beberapa SMA/SMK di Banjarmasin, yakni SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7 Banjarmasin, SMKN 1, dan SMKN 3 itu terlebih dahulu mengunjungi Museum Lambung Mangkurat Banjarmasin yang terletak di Jalan A Yani KM 36 Banjarbaru.

Menggunakan dua buah bus berukuran sedang dengan kapasitas masing-masing kurang lebih 30 orang, para peserta yang menggunakan kaos biru kehijauan berlengan panjang plus topi berwarna kuning tersebut, tampak menikmati perjalanan meski jarak menuju Museum Lambung Mangkurat mencapai 40 km dari Museum Wasaka Banjarmasin.

Tiba di Museum Lambung Mangkurat yang berdiri kokoh dan megah dengan atap berwarna merah, di atas tanah seluas 1,5 hektare itu, para peserta Laseda Kalsel yang merupakan program gelaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel bersama Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak tersebut, disambut hangat pengelola museum. Oleh pengelola museum itu, seluruh peserta dipersilakan dengan bebas untuk melihat koleksi yang ada di ruangan mana saja. Baik yang di lantai atas maupun di lantai bawah.

Bagi peserta yang naik ke lantai atas, mereka dapat melihat berbagai koleksi yang berkaitan dengan kebudayaan dan kerajinan khas Banjar. Ya, di lantai atas tersebut, terpampang berbagai perabot rumah tangga yang sering digunakan masyarakat Banjar, kemudian pakaian adat, peralatan upacara-upacara adat Banjar seperti peralatan Mandi Baya, Baayun Anak, Ma-atar Patalian dan sebagainya. Selain itu, juga ada berbagai jenis bebatuan, alat tenun, alat kerajinan, alat membuat gula merah, alat pertanian ladang berpindah, peralatan pandai besi dan banyak pula yang lainnya. Yang paling menarik, di lantai atas tersebut juga ada ruangan khusus yang menyimpan berbagai koleksi berkaitan dengan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Salah satunya adalah Al Qur'an yang dibuat langsung dengan tulisan tangan Ulama kharismatik yang dikenal juga sebagai Datu Pelampaian itu.

 

 

Sementara bagi peserta yang masuk ke lantai bawah, mereka dapat melihat berbagai hal yang berkaitan dengan sejarah dan peninggalan kuno. Di ruang bawah tersebut, peserta dapat melihat Maket Candi Prambanan, Posil Ikan paus yang ditemukan di Desa Tanjung Kunyit Pulau Laut Barat Kotabaru, Maket candi Borubudur. Kemudian ruang arkeologi yang di dalamnya terdapat beberapa peninggalan Candi Agung dan Laras, serta koleksi lainnya.

Koleksi lain yang ada di lantai bawah itu adalah berbagai lukisan yang menggambarkan perjuangan rakyat Kalsel dan lukisan dengan gambar pahlawan Kalsel seperti Pangeran Hidayatullah, Pengeran Antasari, Demang Lehman dan sebagainya. Kemudian juga ada silsilah kerajaan, keramik temuan, peninggalan Kerajaan Pagatan Berupa keris, tongkat, kursi, ranjang, lemari dan sebagainya.

Lalu ada pula koleksi uang lama mulai tahun 1945 hingga 2005, serta berbagai senjata bersejarah. Salah satunya adalah Sungga yang merupakan senjata perang Banjar di daerah Benteng Gunung Madang, Kandangan HSS.

Sungga adalah sebuah senjata dari baja dengan ujung yang lancip, yang diletakkan di air di bawah sebuah jembatan kecil. Sungga sengaja diletakan di bawah jembatan sebagai perangkap. Apabila ada musuh yang menaiki jembatan tersebut, maka jembatan langsung runtuh, dan musuh pun langsung terjatuh dan tertancap di Sungga yang ada di bawah jembatan tadi.

"Museum Lambung Mangkurat ini resmi dibuka pada hari Rabu, 10 Januari 1979 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang waktu itu dijabat DR Daoed Yoesoef. Kalau menurut ketentuan yang sudah ditetapkan, klasifikasi koleksi museum ini terdiri dari 10 jenis koleksi, yakni Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numimatika/ Heraldika, Filologika, Keramalogika/ Keramik, Koleksi Seni Rupa, serta Teknologika. Sesuai dengan jenis koleksinya, maka museum ini termasuk jenis museum umum," jelas Nasir, salah seorang pengelola museum kepada seluruh peserta.

Setelah puas melihat isi ruang induk museum di lantai atas dan bawah, peserta kemudian diajak untuk melihat koleksi lain yang ada di gedung tambahan di barisan sebelah kanan gedung induk. Di gedung/ruang tambahan itu, peserta bisa melihat koleksi lain berupa lukisan karya Gusti Sholihin, Keramik, Kain Nusantara, serta yang lainnya.

Di salah satu ruang tambahan itu, peserta juga dijelaskan mengenai cara mendulang intan yang banyak dilakoni masyarakat Kalsel saat ini.

Secara ringkas, Nasir menjelaskan pendulangan secara tradisional biasanya dilakukan masyarakat dengan menggali tanah yang diyakini ada intannya untuk diangkut ke "Lambakkan". Setelah itu, tanah kemudian dimasukkan ke "Lumpangan" lalu diayak untuk memisahkan batu-batu yang besar dengan pasir dan batu yang kecil. Hasil ayakan, pasir dan batu-batu kecil tadi kemudian dimasukkan ke dalam "Linggangan" untuk disisihkan lagi, hingga didapatkan serbuk-serbuk emas, serta intan "si Galuh" yang dicari-cari, jika memang beruntung.

Usai mendengarkan penjelasan dan sedikit diskusi, lawatan di Museum Lambung Mangkurat itu pun diakhiri. Guna mengetahui lebih jelas mengenai pendulangan intan, peserta pun dengan tertib kembali memasuki bus untuk selanjutnya menuju tempat Pandulangan Intan di Desa Pumpung Banjarbaru yang jaraknya kurang lebih 15 km dari Museum Lambung Mangkurat. (juga diterbitkan di Harian Pagi Radar Banjarmasin/ bersambung...)


Posted at 06:15 am by khai_ril
Make a comment  

Jul 8, 2006
Mengikuti Laseda Kalsel (1-bersambung)

 ////Huah...setelah cukup lama disibukkan oleh pekerjaan, akhirnya ada juga waktu untuk ng-update neg blog. Oh iya, pada 5 hingga 7 Juli 2006 kemarin, saya ngikutin Lawatan Sejarah Daerah Kalimantan Selatan 2006 yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Kalsel dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.

Ini sedikit oleh-oleh cerita dari Lawatan Sejarah yang saya ikuti tersebut. Semoga bermanfaat, paling tidak untuk menambah wawasan./////

 

Berisi Koleksi Zaman Perang Kemerdekaan!

 

Di tepian sungai, berdampingan dengan kokohnya sebuah jembatan yang panjang lagi besar, sebuah bangunan dengan arsitektur khas Banjar berdiri di tengah rimbun dan lebatnya pepohonan.

 

 

 

BEGITULAH Kiranya gambaran Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka) yang terletak di tepian Sungai Martapura, di Jalan Sultan Adam Komplek H Andir, Kampung Kenanga Ulu RT 14 Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin, yang menjadi tempat pertama kunjungan Lawatan Sejarah Daerah kami.

Di museum yang diresmikan pada 10 November 1991 tersebut, para peserta yang terdiri dari perwakilan masing-masing lima siswa dan satu guru sejarah di SMAN 1 Banjarmasin, SMAN 2 Banjarmasin, SMAN 3 Banjarmasin, SMAN 1 Banjarmasin, SMAN 5 Banjarmasin, SMAN 6 Banjarmasin, SMAN 7 Banjarmasin, SMKN 1 Banjarmasin, serta  SMKN 3 Banjarmasin, disambut H Syarifuddin, Ketua Bidang Pengelola Museum Wasaka.

Oleh Syarifuddin, seluruh peserta dijelaskan mengenai semua yang ada dalam museum. Lebih khusus mengenai benda-benda peninggalan para pejuang atau pahlawan daerah Kalimantan Selatan pada masa revolusi fisik tahun 1945-1949 yang pernah digunakan sewaktu menghadapi atau melawan pemerintah kolonial Belanda. Seperti berbagai jenis senjata yang digunakan. Baik itu berupa tombak, mandau, senapan, mortir, maupun yang lainnya.

Ketika kita berkunjung ke museum tersebut, setelah naik tangga dan memasuki pintu, kita terlebih dahulu akan disambut dengan sebuah meja beserta empat buah kursi yang konon dulunya digunakan sebagai tempat pejuang Kalsel untuk bermusyawarah. Di dinding di sekeliling kursi tersebut, kita bisa melihat deretan foto gubernur, mulai dari gubernur yang paling pertama, hingga yang terakhir.

 

Kalau kita masuk ke ruangan melalui jalur sebelah kiri, maka kita bakal dihadapkan dengan Teks Proklamasi Kemerdekaan RI, daftar organisasi yang pernah berjuang menentang pemerintahan penjajah seperti Lasykar Hasbullah yang bermarkas di Martapura, Barisan Pemuda Republik Indonesia Kalimantan yang bermarkas di Banjarmasin, serta yang lainnya. Berseberangan dengan itu, ada peta Kalimantan Selatan yang dilengkapi dengan bebera foto masyarakat adat di daerah masing-masing.

Lebih ke dalam lagi, kita akan menemui struktur organisasi perjuangan gerilya Kalsel menuju Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI, benda-benda bersejarah lain seperti mesin tik kuno, kamera, cermin, dan sebagainya. Selain itu, di museum tersebut juga ada berbagai benda bersejarah lain, salah satunya sepeda kuno yang katanya sewaktu jaman penjajahan dulu, digunakan untuk mengirimkan surat dengan memasukkan surat tersebut ke dalam badan sepeda agar tidak ketahuan kolonial Belanda. Dan seperti yang disebutkan di atas, di museum tersebut juga terpampang berbagai jenis senjata yang pernah dipergunakan untuk melawan kolonial Belanda.

"Dalam  museum ini, terdapat kurang lebih 400 benda bersejarah. Sebetulnya, kami memiliki banyak koleksi lainnya. Mulai dari periode Perang Banjar, Perintis Kemerdekaan, Perang Kemerdekaan, Pengisian Kemerdekaan, hingga periode Orde Baru. Namun, karena tempatnya tidak memadai, terpaksa yang kami tampilkan hanya koleksi benda-benda di periode Perang Kemerdekaan saja," ujar Syarifuddin kepada saya.

Ditambahkan beliau, bangunan Museum Wasaka yang ada sekarang sebetulnya tak layak disebut sebagai museum, melainkan hanya sebatas ruang pameran saja. Karena katanya, bangunan yang ada sekarang sangat sempit dan sangat tidak lengkap.

"Seharusnya, sebuah museum itu juga memiliki gudang koleksi, ruang penataan, auditorium, ruang penelitian, dan kamar diskusi. Nah, sementara ini, gedung kita ini hanya untuk memajang benda-bendanya saja. Sehingga saya pikir, ini lebih pantas disebut sebagai ruang pameran saja. Untuk itu, saya harapkan dari pemerintah, agar segera merenovasi Museum Wasaka itu agar menjadi sebuah tempat yang benar-benar layak di sebut sebagai museum," kata beliau.

Sementara itu, Dewi siswi SMA Negeri 5 Banjarmasin yang menjadi salah satu peserta Lawatan Sejarah Daerah Kalimantan, mengaku senang bisa mengunjungi museum tersebut. "Saya senang sekali. Karena di museum ini, saya bisa melihat benda-benda bersejarah, sekaligus bisa menambah pengetahuan saya. Harapan saya, semoga benda-benda bersejarah yang terdapat di museum ini terus dipelihara dan dirawat dengan baik," ujarnya.

Sekadar diketahui, selain mengunjungi Museum Wasaka, Lawatan Sejarah Daerah Kalimantan Selatan ini juga mengunjungi beberapa tempat lainnya seperti Museum Lambung Mangkurat Banjarabaru dan Pendulangan Intan di Desa Pampang Banjarbaru, Masjid Al Mukaromah Rantau,  Makam Tumpang Talu Kandangan, Masjid Su'ada Wasah Hilir Kandangan, Benteng Gunung Madang Kandangan, serta Tugu Bersejarah 17 Mei 1949 yang juga ada di Kandangan.

Nah, untuk mengetahui cerita lengkap mengenai tempat-tempat di atas, simak terus lanjutan cerita ini hingga beberapa tulisan berikutnya. (bersambung...)


Posted at 07:32 am by khai_ril
Comment (1)  

Jun 30, 2006
Razia Diskotek, Razia Sambal!

"Assalamu'alaikum Wr Wb. Selamat malam, kami dari Poltabes Kota Banjarmasin/ Polda Kalsel, ingin melakukan razia dan pemeriksaan. Kami mohon partisipasi dan kerjasama dari seluruh pengunjung di diskotek ini"

KALIMAT Di atas merupakan  kalimat pembuka yang selalu diucapkan pihak kepolisan dalam setiap kali mengawali razia atau pemeriksaan di sebuah diskotek di Kota Banjarmasin.

Pertanyaannya? Apakah mungkin dengan cara seperti itu, para pengedar dan pemakai narkoba yang merupakan target operasi bisa terjaring maksimal? 

Kalau saya pribadi berfikiran sangatlah tidak mungkin. Kalaupun misalnya bisa, pasti hanya satu atau dua orang saja.

Mengapa demikian? Karena, para pengedar dan pemakai itu bukanlah orang yang bodoh yang pada saat razia tetap meletakkan narkoba dalam saku atau di salah satu bagian tubuh mereka. Mereka sudah tentu akan membuang barang bukti yang ada di tangan mereka.

Sehingga jangan heran ketika razia dilaksanakan, pihak kepolisian hanya menemukan inek atau shabu tak bertuan yang berhamburan di lantai diskotek. Dan jangan heran pula ketika target operasi pihak kepolisian berubah menjadi pengunjung yang tak ber-KTP atau ber-KTP mati, serta pengunjung yang belum cukup umur untuk naik diskotek.

Lalu, bagaimana cara yang paling efektif? Kalau saya berfikiran, alangkah lebih membuahkan hasil jika razia digelar tanpa pemberitahuan. Pihak kepolisian harus berpakaian preman dan menyamar menjadi pembeli atau penjual.

Dengan demikian, pihak kepolisian dapat menangkap langsung para pengedar atau para pengonsumsi. Tapi satu catatan penting, oknum polisi yang diturunkan adalah oknum yang benar-benar jujur.

Karena berdasarkan pengalaman dan informasi sebagian kawan, tak sedikit oknum polisi yang menyalahgunakan cara tersebut.  Setelah mendapatkan pelaku dan mendapatkan barang bukti, kata kawan-kawan sih banyak oknum yang me-86-kan kejadian hingga pelaku tetap berkeliaran... Atau, ada pula yang menyita barbuk, namun tak dilaporkan kepada atasan. Parahnya, kata kawan-kawan sih, tak sedikit oknum yang melakukan razia malah menyimpan atau bahkan dipakai sendiri (huh, keterlaluan deh kalau memang oknum yang semacam ini benar-benar ada, tul nggak?).


Posted at 05:54 am by khai_ril
Comments (3)  

Jun 27, 2006
Manis dan Cantik, Tapi Sayang...

Foto-foto ini saya jepret saat razia pekat yang digelar di sebuah diskotek di Banjarmasin, Huh, cewek Banjarmasin sebenernya manis and cakep-cakep, tapi sayang, banyak dari mereka yang salah jalan hingga terjerumus ke dunia malam yang penuh kemaksiatan. Berbaur dengan lelaki yang bukan muhrim, dengan aurat yang sengaja ditampakkan dan ditonjolkan.

Semoga mereka diberi hidayah oleh Allah SWT, agar bisa bangkit dan kembali ke jalan yang benar. Semoga pula, kita dan sanak-saudara kita yang belum terjerumus bisa menahan diri agar tidak ikut-ikutan,  Amien...


Posted at 09:04 pm by khai_ril
Comments (6)  

Razia Gepeng dan PSK Banjarmasin

Setelah Didata, Tak Jadi Apa-Apa!

 

 

 

"Aku kada bisa baapa-apa, pang. Jakanya baisi mudal, aku baik bajualan haja. Tapi, karna kada baisi apa-apa, tapaksa-ai aku maminta-minta kaya nginih," ucap seorang nenek berusia sekitar 63 tahun kepada petugas pendataan.

  

RABU malam, 21 Juni 2006 lalu, saya diajak seorang kawan yang juga salah seorang wartawan untuk ikut meliput razia gepeng dan PSK  yang dilakukan Dinas Polisi Pamong Praja (Dis Pol PP) Kota Banjarmasin.

Pukul 20.00 Wita, dengan menggunakan sebuah kendaraan bermotor, kami berangkat dari kantor menuju Kantor Pemerintah Kota Banjarmasin yang jaraknya tak begitu jauh dari kantor tempat kami bekerja. Sesampainya di Kantor Pemkot Banjarmasin, tampak pasukan Dis Pol PP Kota Banjarmasin sedang berbaris dan dibreafing oleh sang komandan. Tak lama setelah itu, mereka pun langsung membubarkan barisan lalu masuk ke armada yang sudah dipersiapkan.

Saya dan beberapa wartawan lainnya pun ikut membaur dengan pasukan Dis Pol PP Kota Banjarmasin tersebut. Kebetulan, saya masuk ke armada pasukan berpakaian preman yang membuat suasana perburuan gepeng dan PSK semakin menantang.

Kawasan Jalan AS Musaffa dan Jalan R Soeprapto Banjarmasin merupakan rute pertama yang kami sambangi. Layaknya seorang intel memburu target operasinya, penyamaran dan kejar-kejaran pun terjadi. Sesekali pasukan berpakaian preman yang searmada dengan saya itu langsung melompat dari mobil pick-up yang kami tumpangi untuk menangkap mangsanya. Tatkala mangsanya lari, mereka pun dengan sigap mengejar.

Aksi kejar-kejaran yang paling menarik terjadi saat mereka menggaruk dua PSK "cilik" di kawasan Jalan R Soeprapto.

Ketika itu, dua PSK "cilik" yang mungkin sudah mengetahui kalau mereka akan digaruk, langsung mencoba melarikan diri. Parahnya, larinya dua PSK "cilik" itu menuju ke lingkungan masjid. Untungnya, belum lagi mereka berlindung atau masuk ke ruang induk masjid, dua PSK "cilik" yang kemudian diketahui baru berusia 14 dan 15 tahun itu dapat diciduk untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam truk yang sudah dipersiapkan.  

Setelah berputar dan berburu ke tempat-tempat yang memang sudah sering dijadikan arena mangkalnya para gepeng dan PSK, akhirnya kami pun kembali ke markas semula, yakni ke Kantor Pemerintah Kota Banjarmasin untuk melakukan pendataan.

Dari hasil pendataan, tercatat 19 PSK yang dua di antaranya adalah waria, sembilan gepeng, delapan anak jalanan, dan tiga pasangan pacaran di tempat umum yang tak memiliki Kartu Tanda Penduduk.

Saat pendataan, semua yang terjaring didata nama, umur, alamat, dan sebagainya. Ketika seorang nenek berusia sekitar 63 tahun diminta menjelaskan mengapa ia menjadi peminta-minta, dengan enteng si nenek berkata bahwa dia tak punya keahlian lain dan tak punya modal untuk berdagang.

"Aku kada bisa baapa-apa, pang. Jakanya baisi mudal, aku baik bajualan haja. Tapi, karna kada baisi apa-apa, tapaksa-ai aku maminta-minta kaya nginih (Saya tak bisa ngapa-ngapain sih. Seandainya saya punya modal, saya baiknya berdagang saja. Tapi, karena tak punya apa-apa, maka terpasalah saya meminta-minta seperti ini, red)," ucap sang nenek kepada petugas pendataan.

Hal itulah yang membuat si nenek tetap menjadi peminta-minta. Tak berbeda dengan para PSK yang terjaring. Mereka pun mengaku tak punya keahlian dan modal untuk membuka usaha lain yang tentunya membuahkan uang yang halal. Alhasil, meski sudah sering terjaring razia dan sudah sangat sering diberi pengarahan, mereka tetap kembali melanjutkan profesi semula sebagai gepeng atau PSK.

"Itulah kekurangan kita saat ini. Kita tak punya tempat khusus untuk merehabilitasi mereka. Kami dari Dis Pol PP hanya bisa berbuat seperti ini untuk membuat mereka kapok beroperasi, meski pada akhirnya mereka tak kapok-kapok juga," ucap Kasubdin Operasional dan Pengawasan Dis Pol PP Drs Guntur Widjaya.

Ditanya apakah pihaknya sudah mencoba mengusulkan pembangunan rumah rehabilitasi tersebut, Guntur mengaku sudah mengajukanya ke DPR. Sayangnya, hingga saat ini belum ada jawaban atau angin segar dari DPR.

"Kami tak bisa berbuat banyak. Yang pasti, kami sudah melakukan penjaringan hingga pendataan. Seharusnya, setelah didata itu, mereka yang terjaring dimasukkan ke rumah rehabilitasi untuk selanjutnya dibina dan diberi pengetahuan dan keterampilan. Sehingga, setelah keluar dari rehabilitasi, mereka bisa menjadi orang yang lebih baik dan bisa menghasilkan uang dengan cara yang lebih baik pula. Kalau misalnya tetap begini-begini saja, maka setelah didata, ya tak jadi apa-apa. Sehingga, gepeng dan PSK pun tetap berkeliaran di mana-mana," tandas Guntur.

Lalu, bagaimana donk solusinya? ***  


Posted at 07:25 pm by khai_ril
Comments (7)  

Previous Page