Khai_ril
Seorang remaja yang terus berusaha untuk mencari jati diri dan makna hidup yang sesungguhnya.
Terlahir di Banjarmasin, 13 Desember 1986 silam.
Hidup dari keluarga sederhana yang Alhamdulillah selalu mendapat limpahan rezeki dari Allah SWT.
Suka bertualang, bercanda, dan ngumpul bareng teman-teman di skul or kampus.
Bercita-cita sukses dan bisa membahagiakan orangtua serta orang-orang yang ada di sekitar.
   

<< February 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Mar 16, 2008
Ngomongin Ayat-Ayat Cinta bersama Hanung Bramantyo

Hanung : "Beda? Karena Novel dan Film Medianya Beda!"

Mengikuti kesuksesan novelnya, pemutaran film Ayat-Ayat Cinta yang digarap sutradara muda Hanung Bramantyo juga meledak di pasaran. Pecinta-pecinta film memuji keluarbiasaan karya Hanung tersebut. Tapi oleh sebagian besar pembaca novel Ayat-Ayat Cinta, film yang digarap Hanung dianggap membuat kecewa karena lepas dari konsep aslinya. Apa komentar Hanung? Berikut tulisan saya….

JUMAT malam (14/3) lalu ketika mengikuti perjalanan Lihan, pengusaha muda asal Cindai Alus Martapura ke Jakarta, saya berkesempatan bertemu, bertatap muka, dan ngobrol langsung dengan sang sutradara film Ayat-Ayat Cinta, Hanung Bramantyo. Hanung bertandang ke hotel tempat kami menginap, lalu oleh Lihan, Hanung diajak ngobrol di kamar saya, kamar 1018 Crowne Plaza Hotel Jakarta. Kala itu, ikut pula penyanyi religius, Opick, bersama istri tercintanya.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang tersedia, usai Hanung, Opick, dan Lihan membicarakan rencana pembuatan film "Sunan Kalijaga" mereka, saya membuka pembicaraan soal film Ayat-Ayat Cinta kepada Hanung.

Pukul 23.30 Wib, sambil berjalan dari kamar menuju lobby Crowne Plaza Hotel untuk selanjutnya Hanung dan Opick meninggalkan hotel, saya ungkapkan mengenai perbedaan-perbedaan antara kisah di film yang digarap Hanung, dengan kisah di novel aslinya buatan Habiburrahman.

Dalam novelnya kata saya, Habibburahman menceritakan bahwa Maria didampingi komplit keluarganya. Ada Yousef adiknya, ada Tuan Boutros Rafael Girgis sang ayah, juga ada ibunya. Mengapa di film hanya dikisahkan Maria dan ibunya saja?

Lalu, ketika Fahri di penjara, di novel Habiburrahman diceritakan bahwa orang yang selalu memberikan nasihat luar biasa kepada Fahri adalah seorang guru besar Ekonomi Pembangunan di Universitas El-Menya, Prof Dr Abdur Rauf Manshour, yang ditangkap karena kritikan-kritikan tajamnya di koran.

Tapi di film, si pemberi nasihat itu digambarkan Hanung dengan sosok yang jauh dari intelektual, jauh dari gambaran seorang guru besar. Yaitu, seorang lelaki absurt dengan penampilan tak terurus. Sekalipun di film tidak disebutkan bahwa itu Prof Dr Abdur Rauf yang diceritakan Habiburrahman di novelnya, namun jelaslah dari penokohannya, si lelaki tak terurus itu memerankan lakon Prof Dr Abdur Rauf.

Di novel, masuk rumah sakit dan komanya Maria dikisahkan memang karena sakitnya. Di film? Maria masuk rumah sakit karena ditabrak anak buah Bahadur. Di novel, dikisahkan detik-detik meninggalkan Maria adalah dengan ia bolak-balik mencoba memasuki pintu surga, namun ditolak karena belum bersyahadat. Lalu Maria minta diajari mengucapkan syahadat. Dan setelah bisa, ia lalu meninggal. Tapi di film, meninggalnya Maria adalah digambarkan dengan ia minta ikut salat berjamaah, lalu meninggal dalam salatnya.

Hanung hanya mendengarkan paparan saya. Masuk dalam lift, saya pun memintai komentarnya mengenai perbedaan alur cerita Ayat-Ayat Cinta tersebut. "Cerita beda? Ya karena novel dan film medianya beda! Novel ya novel, film ya film. Nggak bisa disamakan donk," jawab Hanung singkat dan tegas.

Kamar saya berada di lantai sepuluh. Satu pertanyaan lagi sempat saya sampaikan ketika lift sudah turun hingga di lantai 5. Saya bertanya, mengapa Hanung menggambarkan kehidupan poligaminya  Fahri dengan Aisha dan Maria. Padahal di novel tidak digambarkan hal itu. Apakah karena masih hangatnya isu poligami?

"Saya hanya ingin ngasih kesempatan wanita untuk bicara. Saya ingin menggambarkan begitulah berpoligami. Ada rasa cemburu antara istri yang satu dengan yang lainnya, yang semua itu saya rasa memang tak bisa dipungkiri," paparnya.

"Di samping itu, saya juga kasihan dengan penokohan Maria. Di novel, Maria disembuhkan dari sakitnya hanya untuk menyelamatkan Fahri dari penjara. Nah, di film, saya ingin Maria mendapat balas atas jasanya. Saya ingin, Maria juga merasakan betapa indahnya cinta Fahri, tak sekadar jadi saksi lalu mati," lanjut Hanung, lift sudah sampai di lantai 1, pintunya pun terbuka.

Saya semakin ingin bertanya, sambil berjalan menuju lobby dan pintu keluar, saya tanyakan lagi, mengapa ia tak mau menyamakan dengan di novel. Bukankah sebagai dasar pembuatan, novel Ayat-Ayat Cinta memang harus menjadi pedoman utama dalam penggarapan filmnya? "Saya kira tidak. Kita kan boleh berapresiasi dalam penggarapannya. Selama tidak mengurangi makna cerita, ya tidak akan menjadi masalah," tukasnya yang terus berjalan hingga akhirnya sampai ke pintu keluar hotel.

Sebenarnya, ada satu hal penting yang tak sempat saya sampaikan. Yaitu, mengenai setting tempat yang dipakai Hanung. Di novel, Habiburrahman mengisahkan latar tampatnya adalah daerah Kairo, Mesir. Tapi, Hanung malah take gambar dengan menyulap Semarang dan India saja. Sehingga, pecinta-pecinta yang ingin sekali menemukan gambaran Sungai Nil, tak kesampaian ketika menyaksikan filmnya Hanung.

Saya ingin bertanya, mengapa Hanung tidak langsung bertandang ke Kairo untuk pengambilan gambarnya. Paling tidak, untuk mengambil gambar Sungai Nil-nya begitu. Mengobati penasaran tersebut, saya coba browsing-browsing internet kemarin. Ternyata, di websitenya, Hanung mengupas tuntas soal mengapa ia akhirnya mengambil setting Semarang dan India saja.

"Pengambilan setting Semarang dan India merupakan keputusan akhir setelah terkendala rumitnya perizinan dan biaya pengambilan gambar di Kairo. Biaya satu film di sana (Kairo, red) bisa untuk tiga kali bikin film di Indonesia. Bayangkan, untuk lima hari syuting, kami dimintai Rp5 Milyar, cukup untuk satu film di Indonesia tuh. Kami pernah juga sudah sampai di bandara untuk menuju ke sana. Tapi kami terkendala visa, akhirnya, batal lah syuting di Kairo. Kami sendiri sebetulnya sangat ingin syuting di sana. Tapi apa boleh buat," begitulah kiranya ringkasan alasan Hanung di websitenya, soal mengapa syuting AAC hanya dilakukan dengan menyulap Semarang dan India.(khai_ril)


Posted at 05:32 pm by khai_ril
Comments (4)  

Jan 16, 2008
My Friendster....

Assalamu'alaikum semuanya..

Mohon maaf, lama banget nggak bisa nyentuh blog ini.

Kesibukan membuat saya tak sempat meluangkan waktu untuk terus meng-up-date blog ini...

Oh ya, terima kasih saya haturkan kepada Anda semua yang sudah berkunjung ke blog ini...

Buat yang punya friendster, saya ada di shyintaxs@plasa.com...

jangan lupa di add, saya tunggu yacchh..

see uuu...


Posted at 07:13 am by khai_ril
Make a comment  

Nov 4, 2006
Generasi "Moderenisasi"

Sisi Lain Even Musik di Sebuah Discotheque

Sabtu malam (4/11) kemarin saya berkesempatan meliput penampilan sebuah grup musik asal Jerman "Groove Coverage".

Namun yang sedikit membuat saya kebingungan, acara tersebut dilakukan di sebuah discotheque. Terlebih saya belum pernah menginjakkan kaki sekali pun ke discotheque tempat pelaksanaan even musik "Groove Coverage" tersebut.

Banyak yang menjadi object perhatian saya. Salah satunya adalah foto-foto yang saya tampilkan berikut ini.

 

Menikmati musik sambil menikmati...(bla...bla...bla...)

                                                             

                                                                           Masih seger !!!     

 

      Mulai ngantuk atau mulai...?

                                                        

                                                                 Waduh udah keduduk...nich... 

         

Apa yang terjadi pada bagian ke empat? Yach, hanya mereka yang tahu kelanjutannya...        

Astagfirullah...betapa banyak generasi muda muslim/muslimah kita telah rusak imannya. Berpakaian serba terbuka, dan dengan bebasnya berkumpul bersama lawan jenis yang bukan muhrimnya.

Semoga, Allah SWT senantiasa melindungi diri kita agar tidak terjerumus ke dunia "mereka". Amien...

                                       


Posted at 10:26 pm by khai_ril
Comments (5)  

Aug 30, 2006
Wawancara Langsung Dengan Ananda

>>>>Alhamdulillah, Duta Kalsel bisa berjaya di Pemilihan Puteri Indonesia… Berikut wawancara dengan Ananda, Duta Kalsel yang menyabet empat gelar sekaligus di Pemilihan Puteri Indonesia 2006 ini…

 

 

Persiapan Tiga Tahun,Anugrahkan Empat Gelar!

 

BUKAN Sembarang berkompetisi. Untuk maju ke kontes Pemilihan Puteri Indonesia 2006, ternyata Nanda, Duta Kalsel yang menyabet empat gelar sekaligus (Runner Up I Puteri Indonesia, Puteri Persahabatan, Puteri Lingkungan, plus Puteri Terfavorit Pulau Kalimantan yang baru diumumkan kemarin, red) telah mempersiapkan dirinya sejak tiga tahun silam.

Ingin tahu lebih lanjut, berikut wawancara langsung melalui telepon yang dilakukan wartawan koran ini (Khairil Anwar, red), kepada gadis bernama lengkap Ananda, puteri pasangan Ir H Noor Ahmad NH dan Dra Hj Nurwana, kelahiran Banjarmasin, 3 Juni 1984 tersebut.

 

Selamat atas prestasinya ya Mba!

Terimakasih…terimakasih. (sambil tertawa, sembari menjelaskan kalau ia baru saja mendapat tambahan gelar sebagai Puteri Terfavorit dari Pulau Kalimantan)

 

Gimana perasaannya bisa meraih tiga, eh empat gelar sekaligus nih?

Alhamdulillah, aku senang banget. Pokoknya nggak ada kata lain yang bisa ku ucapin selain Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT.

 

Mba, dalam kompetisi Puteri Indonesia 2006 ini, tentunya Mba Nanda mengejar target menjadi Puteri Indonesia. Nah, pada kenyataannya, Mba Nanda hanya berhasil sebagai Runner Up Pertama. Apakah ada rasa kecewa atau kesal?

Ehm, aku sama sekali nggak ngerasa kecewa. Karena aku pikir, mungkin inilah rejeki aku. Jadi, aku sih enjoy-enjoy aja. Apalagi, dengan menjadi Runner Up Pertama ini, aku sekaligus dinobatkan sebagai Puteri Lingkungan dan akan dikirim ke Pemilihan Puteri Lingkungan Hidup tingkat Internasional. Yang mana aku memang konsent ke bidang tersebut. Jadi, pas banget dengan aku.

 

Oh iya, kapan balik ke Banjarmasin, Mba?

Aku juga belum tau nih. Tapi, aku usahakan secepatnya deh. (sembari menjelaskan kalau ia bersama ayah dan ibunya sedang berada di salah satu rumah keluarganya di kawasan Jakarta Pusat, usai menemani Miss Universe 2006 keliling Jakarta)

 

Program ke depannya apa, Mba?

Untuk program, kayaknya belum bisa diuraikan sekarang. Karena, aku juga masih nunggu agenda kerja dari Mustika Ratu.

 

Mba, dalam kesempatan ini, Mba ingin ngucapin terimakasih kepada siapa aja?

Pertanyaan yang tepat.  Pertama aku ucapin terimakasih kepada Allah SWT dan kedua orangtuaku. Kemudian untuk sahabat-sahabat dan teman-temanku seperti Nadia dan yang lainnya. Lalu,  untuk Pemrov Kalsel dan Pemkot Banjarbaru yang sangat perhatian dan telah memberikan banyak dukungan kepada ku. Serta, untuk Bank BPD Kalsel, Mas Kawang Yoeda, dan semuanya yang tak bisa aku sebutin satu persatu. Thank you for all deh.

 

Mba, meraih empat gelar dalam sekali bertanding tentunya merupakan hal yang sangat luar biasa. Apa nih rahasianya?

Ehm, perlu aku sampaikan, sebenarnya keinginanku untuk turut berkompetisi di ajang Pemilihan Puteri Indonesia ini sudah ada sejak tiga tahun lalu. Namun, karena merasa belum begitu yakin dengan persiapanku, maka aku sengaja tak berkompetisi waktu itu. Nah, pas tahun 2006 ini, aku ngerasa sudah sangat yakin, sehingga kupastikan turut berkompetisi. Jadi, rahasianya adalah persiapan yang matang. Karena dengan persiapan yang matang, kita bisa tampil dengan maksimal. Andaipun kita gagal juga, maka kita nggak bakal terlalu kecewa.

 

Terakhir Mba, ada pesan nggak untuk calon Puteri Indonesia Kalsel yang akan berkompetisi pada pemilihan tahun 2007 mendatang.

Pesannya, tentunya calon Puteri Indonesia Kalsel harus melakukan persiapan yang benar-benar matang. Kemudian, jangan takut berkompetisi dan jangan pernah menyerah. Tanamkan semangat bahwa kita juga bisa menjadi juara dan mengharumkan nama Kalimantan Selatan.

 

Oke deh Mba, terimakasih atas waktu dan wawancaranya ya…

Iya, makasih banyak juga Ril. Salam buat warga Kalsel semua...

 

Assalamu'alaikum

Wa'alaikum Salam (yang kemudian menutup handphonenya)


Posted at 05:52 pm by khai_ril
Make a comment  

Lebih Dekat dengan Ananda (3-habis)

Kebanjiran SMS Usai Penobatan

 

Dalam wawancara langsung beberapa waktu lalu, Nanda mengungkapkan bahwa untuk bisa sukses seseorang harus melakukan persiapan yang matang. Lalu, bagaimana persiapan Nanda sendiri hingga ia sukses menyabet empat gelar sekaligus di Pemilihan Puteri Indonesia 2006 ini?

 

KHAIRIL ANWAR, Banjarmasin

 

SEPERTI yang juga pernah diceritakan Nanda, keinginannya berkompetisi di Pemilihan Puteri Indonesia sudah terpendam sejak tiga tahun lalu. Namun karena ia baru merasa yakin untuk ikut di tahun 2006, akhirnya Nanda berkompetisi di Pemilihan Puteri Indonesia 2006.

"Untuk mempersiapkan maju ke Pemilihan Puteri Indonesia 2006 ini, aku secara khusus nonton langsung Pemilihan Puteri Indonesia 2005 lalu. Hal itu sengaja aku lakukan agar aku benar-benar mengetahui situasi Pemilihan Puteri Indonesia sesungguhnya," ungkap Nanda.

Setelah merasa mantap, Nanda kemudian menghubungi Kawang Yoedha, desainer ternama Kalsel untuk meminta dukungan dan bantuan. Ketika itu, kata Nanda, Kawang langsung menyambut baik keinginannya. "Kalau Nanda yang ikut, aku pasti bantu," ungkap Nanda menirukan apa yang dikatakan Kawang Yoedha waktu itu.

Untuk lebih memantapkan langkahnya, setelah terpilih sebagai salah seorang finalis Puteri Indonesia, Nanda kemudian menemui orang nomor satu di Kalsel ini, yakni Gubernur Rudy Ariffin. Namun, karena kesibukan yang cukup padat, Gubernur Rudy tak bisa ditemui. Hingga pada akhirnya, Nanda menemui Wagub Kalsel H Muhammad Rosehan NB yang disambut hangat oleh Ny Hj Aida Muslimah, istri Rosehan NB.

Sembari terus meminta restu kepada masyarakat Kalsel, Nanda pun terus memperdalam ilmunya. Nanda belajar menari dengan Zulfan, kemudian belajar nyanyi dan nge-MC dengan adik kelasnya Gessy Mairiris. Tak lupa, Nanda yang sebenarnya sudah mampu nyerocos dalam bahasa Inggris, kembali memperdalam ilmu bahasa Inggris-nya.

Yang hebat, untuk belajar Bahasa Inggris tersebut, Nanda secara khusus belajar dengan orang Amerika. "Di samping itu, aku selalu membaca buku dan membuka internet untuk menambah wawasanku," sambung puteri tunggal pasangan Ir H Noor Ahmad NH dan Dra Hj Nurwana tersebut.

Hasilnya, sungguh luar biasa. Nanda menyabet empat gelar sekaligus. Yakni, Runner Up 1 Puteri Indonesia, Puteri Persahabatan, Puteri Lingkungan, dan Puteri Terfavorit Pulau Kalimantan.

Lalu, apa yang terjadi setelah Nanda berhasil menyabet empat gelar tersebut? "Wow, aku kebanjiran ucapan selamat. Waktu HP ku buka, lebih 200 ucapan selamat yang masuk. Aku semakin kaget, karena HP ku yang satunya lagi, ternyata juga kebanjiran SMS ucapan selamat," ujar Nanda yang mengaku hingga saat ini masih mencoba membalas satu per satu ucapan selamat yang masuk ke handphonenya.

"Ulun mohon maaf kalau sampai saat ini masih ada nang balum menerima SMS balasan ulun. Pokoknya, sampai wayah ini ulun masih mancoba mambalasi satu per satu SMS-SMS sampeyan barataan. Mohon maaf jua andai kata ulun kada sempat mambalasi. Pokoknya, ulun ucapakan tarimakasih sabarataan," pungkas Nanda. (habis)

Posted at 05:08 pm by khai_ril
Comment (1)  

Lebih Dekat dengan Ananda (2-bersambung)

Selalu Pasang Target di Awal Tahun

Ingin Jadi Anggota Legislatif dan Lepaskan Masa Lajang

 

Menjadi Runner Up I dan meraih tiga gelar lainnya di Pemilihan Puteri Indonesia 2006 bukanlah prestasi pertama yang diraih Ananda. Sebelumnya, mahasiswi Kedokteran Unlam Banjarbaru ini sudah meraih segudang prestasi. Baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Apa saja prestasi yang sudah diraih Nanda? Berikut ulasannya.

 

KHAIRIL ANWAR, Banjarmasin

 

KETIKA Ditanya mengenai karir, Nanda yang dihubungi Wartawan koran ini Senin pagi kemarin, mengaku tak mengingat pasti awal berkarirnya. Namun ketika ditanya prestasi besar yang pernah ia raih, Nanda langsung nyerocos hingga wartawan koran ini kewalahan mencatatnya.

Khusus di dunia entertainment, Nanda menyebutkan bahwa ia pernah menjadi Galuh Banjar dan Finalis Model Aneka pada tahun 2000. Kemudian, menyabet gelar jawara (juara pertama, red) Puteri Citra Indonesia Tingkat Nasional pada 2003, serta menjadi pemenang Favorit VJ Hunt MTV dan membintangi film independent berjudul Orange Juice pada 2004.

Tak cukup di situ, pada tahun 2005, Nanda pun mengantongi segudang prestasi. Di antaranya terpilih sebagai Juara Pertama Simpatizone Ambasador dan Juara Periode 5 Indonesian Eyes Beauty Contest.

Di samping itu, Nanda yang sempat mengikuti audisi dan workshop sinetron Lambung Mangkurat-Puteri Junjung Buih gelaran Sanggar Budaya Kalsel bersama TVRI Pusat Jakarta, TVRI Kalsel, dan Harian Pagi Radar Banjarmasin ini, juga terpilih sebagai pemeran utama, yakni sebagai Puteri Junjung Buih.

Sayangnya, bersamaan dengan itu, Nanda harus berangkat ke Jakarta guna mengikuti grand final Simpatizone Ambasador. Alhasil, peran Puteri Junjung Buih di sinetron garapan H Adjim Arijadi itu pun tak sempat dimainkannya.

"Prestasi-prestasi tersebut tak lepas dari peran-serta dan motivasi abah wan mamaku," ungkap alumnus TK dan SD Sabilal Muhtadin, SMP Negeri 2 Banjarmasin, dan SMA Negeri 1 Banjarmasin ini.

Apakah memang terlahir dari keluarga yang berprestasi di bidang entertainment? Nanda mengatakan tidak. Seperti diketahui, ayah Nanda adalah seorang pengusaha yang juga pecinta tenis meja, sementara ibunya adalah pegawai negeri. Jadi, memang tak ada turunan dalam dunia entertainment.

"Yang menjadikan aku seperti ini adalah motivasi orangtua-ku. Mama sering kali berucap, karena beliau tak pernah jadi model, maka aku harus jadi model. Akhirnya aku memang jadi model. Kemudian, Mama bilang kalau dulu beliau tak pernah jadi dokter, maka aku harus jadi dokter, untuk itulah aku kuliah di kedokteran. Termasuk, Mama mengatakan kalau dulu beliau tak pernah berkompetisi di Puteri Indonesia, maka aku harus berkompetisi di ajang ini," kata Nanda.

Perlu diketahui pula, prestasi Nanda bukan hanya tercetak di dunia entertainment saja. Melainkan, juga tercetak di bidang akademik. Pada 2002, Nanda terpilih sebagai salah seorang peserta program pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada. Sementara pada 1999, Nanda yang saat itu masih berstatus sebagai siswi SMA Negeri 1 Banjarmasin, terpilih menjadi salah seorang anggota Paskibraka di Istana Negara. Hebatnya, Nanda juga pernah menjadi pramugari salah satu penerbangan pada 2004-2005.

"Sewaktu SMA, Nanda memang dikenal sebagai siswa yang cerdas dan aktif. Sopan, rapi, serta bagus dalam pergaulan. Kalau dikelompokkan, Nanda termasuk kelompok kelas atas," ucap Adrian Spd, Wakasek Kesiswaan SMA Negeri 1 Banjarmasin yang merupakan guru Bahasa Indonesia Nanda, waktu Nanda SMA dulu.

Kalau kita lihat kembali, sejak 1999 hingga 2006 ini, tak ada satu tahun pun yang terlepas dari prestasi (terkecuali tahun 2001 yang mana, Nanda lebih memfokuskan diri pada kuliahnya, red). Nah, selain motivasi orang tua, apakah hal utama yang membuat Nanda selalu meraih prestasi tiap tahunnya?

"Kuncinya adalah memasang target pada setiap awal tahun. Dengan target tersebut, kita akan termotivasi untuk menggapainya dengan usaha yang maksimal. Sebagai contoh, awal tahun 2006 lalu, aku memang menargetkan berkompetisi di  Pemilihan Puteri Indonesia. Dengan target yang ku pasang awal tahun itu, aku selalu berusaha hingga aku benar-benar mendapatkannya, mulai dari mencari info yang lengkap, sampai mengirimkan formulir pendaftarannya. Begitupun dengan tahun-tahun sebelumnya," bocor Nanda.

Lalu, apa target Nanda tahun 2007 mendatang? "Wah sebetulnya terlalu dini. Namun, jujur saja, pada tahun depan targetku sudah harus menyandang predikat Dokter. Kemudian, aku juga ingin menjadi anggota legislatif dan segera melepaskan masa lajang ku he..he..," cengir Nanda. (bersambung)


Posted at 05:06 pm by khai_ril
Make a comment  

Lebih Dekat Mengenal Ananda (1-bersambung)

Cerewet dan Jahil di Waktu Kecil

     

Ananda, begitulah nama lengkap Duta Kalsel, peraih gelar Runner Up 1, dan tiga gelar lainnya di Malam Penobatan Pemilihan Puteri Indonesia 2006, beberapa waktu lalu. Sama halnya dengan yang lain, Nanda—sapaan akrab Ananda, red—juga pernah melewati masa kecil. Nah, bagaimana masa kecil puteri tunggal pasangan Ir H Noor Ahmad NH dan Dra Hj Nurwana tersebut? Berikut ulasannya.

 

KHAIRIL ANWAR, Banjarmasin

 

SETELAH Sekitar sembilan bulan sembilan hari dalam kandungan, Nanda terlahir ke dunia pada 3 Juni 1984 silam, tepatnya pada hari Minggu pukul 11.00 Wita, di rumah ayah dan ibunya, Jalan Simpang Belitung Banjarmasin.

Kehidupan Nanda yang terlahir dengan panjang 51 Cm dan berat 3,55 Kg, atas bantuan seorang bidan bernama Uni Antang itu berjalan layaknya kebanyakan orang.  Namun yang hebat, sejak usia TK, Nanda sudah sering diajak sang ayah keliling ke luar kota, daerah, bahkan luar negeri seperti Tokyo, Jepang. Sampai-sampai, Nanda pun pernah diajak sang ayah berangkat ke Mekkah pada 1992 dan 1994.

"Sebagai pelaku bisnis, saya sering berangkat keluar kota bahkan luar negeri. Biasanya, kalau saya berangkat itu, saya selalu mengajak Nanda. Apalagi, Nanda merupakan anak kami satu-satunya," kata Ir H Noor Ahmad NH (ayah Nanda, red) yang khusus diwawancarai wartawan koran ini, kemarin.

Ahmad mengungkapkan, Nanda kecil adalah seorang anak yang kreatif, pantang menyerah, dan selalu ingin tampil atau menonjol di kelompoknya. Suatu ketika, Nanda pernah meminta ibu gurunya duduk ke belakang, lalu dengan penuh percaya diri, Nanda duduk di bangku ibu guru, dan berlagak seperti seorang pengajar.

"Kalau tidak dituruti, Nanda biasanya menangis. Jadi, mau tak mau, sang ibu guru pun harus menuruti keinginannya," kenang Ahmad.

Di samping itu kata Ahmad, Nanda juga memiliki rasa keingintahuan yang sangat kuat. Tak heran, hari-harinya selalu ia lewati dengan mencari ilmu pengetahuan. Baik melalui buku, maupun dengan membuka internet.

"Kami sebagai orangtua sangat senang melihat sifat Nanda yang seperti itu. Oleh karenanya, kami selalu menyempatkan diri untuk memberikan ilmu pengetahuan tambahan kepada Nanda. Kalau kebetulan saya di luar kota atau luar negeri, saya biasanya membantu Nanda belajar melalui telepon atau faximile," sambung penyuka tenis meja ini.

Ditambahkan Ahmad, sejak kecil Nanda tergolong orang tak suka menyia-nyiakan waktu. Selain itu, Nanda pun dikenal sebagai anak yang aktif, hingga bisa dikatakan waktu istirahatnya itu hanya ada pada saat ia tidur.

Meski dilahirkan di keluarga yang penuh kasih sayang, Nanda paling anti disebut "anak mami" atau anak manja. Ia lebih memilih hidup mandiri dengan kerja kerasnya sendiri. "Hingga sekarang, ketidaksukaannya disebut anak manja itu masih melekat dalam diri Nanda. Sampai-sampai, Nanda lebih memilih menyetir sendiri setiap berangkat ke kampus," jelas Ahmad.

Ditanya mengapa dulunya Nanda hanya diberi nama yang sangat singkat (seperti diketahui, nama lengkap Nanda adalah Ananda, red), Ahmad mengungkapkan bahwa pada saat Nanda dilahirkan dulu, sang ibu, Hj Nurwana senang dengan seorang anak kecil bernama Ananda. Ketika itu kata Ahmad, anak kecil tersebut tampak memiliki budi pekerti yang baik. "Atas pertimbangan itulah, anak kami juga kami beri Ananda," terang Ahmad yang sudah tiba di Banjarmasin Minggu malam kemarin.

Sementara itu, Hj Nurwana yang hingga kini masih menemani Nanda di Jakarta mengungkapkan, Nanda adalah anak yang cerewet, cengeng, suka make-up, dan suka usil. Di samping itu cerita Nurwana, Nanda kecil sering kali mengekspresikan apa yang ia cita-citakan. Sebagai contoh, Nanda yang dulunya bercita-cita menjadi seorang reporter, setiap pulang sekolah, Nanda selalu nodongin ujung sapu ke arah ibunya. Tanpa basa-basi, Nanda kemudian melakukan tanya jawab dengan sang ibu, layaknya seorang reporter yang melakukan wawancara dengan narasumbernya.

"Nanda yang suka make-up sering pula ngejahilin tantenya. Pernah, tantenya di make-up habis-habisan, dengan perintah tak boleh dihapus sebelum saya pulang kerja. Kalau tantenya membantah, maka Nanda menangis keras. Alhasil, tantenya pun terpaksa menahan make-up tebal berjam-jam hingga saya kembali dari kantor," kenang pegawai Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel itu dibarengi tawa kecil mengingat kejahilan puteri tunggalnya.

Ketika ditanya mengenai prestasi Nanda yang hanya menjadi Runner Up 1 Puteri Indonesia, baik Ahmad maupun Nurwana mengaku tak kecewa sama sekali. Sebaliknya, mereka malah bersyukur karena Nanda tak menjadi pemenang utama Puteri Indonesia. Karena kata Ahmad, kalau Nanda menjadi pemenang utama, Nanda otomatis harus mengikuti Miss Universe dimana Pemilihan Miss Universe itu mengharuskan pesertanya melewati sesi swimsuit atau busana renang.

"Kami sangat bersyukur, bahkan ikhlas dunia akhirat. Karena kalau misalnya Nanda meraih juara pertama lalu berkompetisi ke Miss Universe dan melalui sesi swimsuit. Waduh, mau ditaruh dimana muka kami. Apalagi, masyarakat Kalsel adalah masyarakat agamis, yang tentunya tak akan rela jika dutanya harus berlaga dengan busana yang pamer aurat. Jujur, saat Nanda menggunakan gaun malam pada Pemilihan Puteri Indonesia kemarin saja, kami merasa sangat berat. Apalagi, Nanda sendiri sudah bergelar Hajjah," tandas Ahmad.(bersambung)


Posted at 05:05 pm by khai_ril
Make a comment  

Aug 6, 2006
Mengunjungi Jakarta di Tengah Ketidaktahuan

Ongkos Taxi Diminta Dua Kali Lipat!

 

RABU Pagi hingga Jumat malam kemarin (2-4 Agustus 2006), saya mendapat kesempatan berangkat ke Jakarta. Tentunya, bukan untuk jalan-jalan ato berholiday ria. Melainkan untuk menjalankan salah satu tugas kewartawanan saya.

Bagi sebagian orang, berangkat ke Jakarta merupakan hal yang biasa. Namun bagi saya pribadi, berangkat ke Jakarta adalah suatu hal yang sangat luar biasa. Terlebih, keberangkatan itu merupakan keberangkatan pertama saya ke Kota Metropolitan tersebut.

Saya yang saat itu berangkat dengan salah seorang wartawan lain dari Kota Banjarmasin ini, tiba di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 07.30 WIB. Ketika itu, kami sempat dibuat bingung. Lantaran, jemputan yang kami tunggu-tunggu tak kunjung datang.

Ingin berangkat sendiri, kami tak tahu tujuan yang pasti. Alhasil, bingunglah yang kami rasakan saat itu. Setelah satu jam menunggu jemputan yang tak jua datang, kami kemudian menghubungi pihak yang mengutus kami dari Banjarmasin melalui telepon selular. Oleh pihak pengutus, kami diperintahkan untuk menuju Grand Hyatt Hotel, Jakarta. "Pokoknya, panggil saja taxi, kemudian minta antarkan ke Grand Hyatt. Mengenai biaya jangan khawatir, nanti saya ganti setelah balik ke Banjarmasin," kata sang pengutus kepada kami.

Mendengar jaminan penggantian biaya, kami pun tanpa ragu memanggil taxi. Tanpa basa-basi, kami masuk taxi lalu meluncur. Beberapa menit kemudian, kami baru tersadar bahwa taxi yang kami tumpangi bukan taxi argo. Kami pun langsung menanyakan berapa ongkosnya. Alangkah terkejutnya kami ketika si sopir taxi bilang "Rp150 ribu saja". Wow, nyebut Rp150ribu, pak sopir pake nambahin kata "saja".

Namun, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Mau turun udah nggak bisa lagi. Akhirnya, ya sudah kami tetap naik tuh taxi, dengan pertimbangan bahwa bayarnya juga bukan dengan uang pribadi kami (he…he…).

Perjalanan lumayan seru. Melewati jalan tol dengan view gedung-gedung bertingkat yang tinggi menjulang. Namun, di tengah perjalanan, telepon selular teman seperjalanan saya berbunyi. Setelah diangkat, ternyata informasi terbaru, tempat kami menginap bukan di Grand Hyatt Hotel, melainkan di Hilton Hotel. Akhirnya, taxi pun berputar arah (saya juga nggak ngerti kenapa berputar. Apakah memang beda jalur, ato hanya akal-akalan sang supir). Untungnya ketika kami tanyakan masalah ongkos, si sopir bilang tetap saja. Yakni Rp150 ribu. 

Setelah melakukan perjalanan yang lumayan melelahkan, ditambah kemacetan lalu lintas yang cukup menjengkelkan. Akhirnya, kami sampai jua di hotel yang di maksud. Pas turun dari taxi, kami dikejutkan dengan permintaan pak sopir yang ingin ongkosnya ditambah Rp50 ribu. "Lho, bukannya tadi bapak bilang harganya tetap. Kok malah minta tambah sih pak," kata kami. "Tadi khan macet mas. Jadi, harap maklumlah," jawabnya santai.

Kasian dengan pak supir, kami pun menambahnya. Namun, tak sesuai dengan permintaan. Melainkan hanya dengan menambahkan sejumlah uang receh yang ada di saku kami. Ya, mungkin sekitar delapan ribuan saja lah. Untungnya pak sopir nggak begitu cerewet. Kalo cerewet, udah pasti uang tambahan yang tadi kami kasihkan bakal kami tarik lagi. Nangis…nangis deh tuh sopir…he….he…

Diantara penyesalan dan pengalaman, kami berusaha menikmati Jakarta di tengah ketidaktahuan kami. Mengapa kami bilang menyesal, karena kata teman-teman yang dari bandara naik taxi Argo, untuk sampai ke Hilton Hotel itu cukup ngeluarin ongkos sekitar Rp70 sampe Rp80ribuan saja, tidak Rp150 ribu, plus tambahan seperti yang kami alami. Huaahhh…Jakarta…Jakarta… Tak jauh beda dengan di Banjarmasin, dimana masih banyak orang yang memanfaatkan ketidaktahuan orang lain untuk meraih keuntungan pribadi. (khairil_anwar)


Posted at 07:17 am by khai_ril
Comment (1)  

Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (6-habis)

Banyak Keanehan Saat Pembangunan Masjid

 

Kandangan merupakan kota terakhir yang kami kunjungi. Setelah pada cerita kemarin dikisahkan mengenai kunjungan ke Makam Tumpang Talu dan kawasan Pemakaman Amuk Hantarukung, kali ini cerita berkisah tentang Masjid As Su'ada, Tugu Bersejarah 17 Mei 1749, dan Benteng Gunung Madang. Berikut ceritanya!

 

JAM di tangan kiri saya ketika itu menunjukkan pukul 10.00 Wita. Usai mendengarkan penjelasan segala hal yang berkaitan dengan Makam Tumpang Talu, lalu mengunjungi Pemakaman Amuk Hantarukung di Desa Hantarukung, saya, seluruh peserta, dan panitia pun langsung bergerak mengunjungi tempat lawatan berikutnya.

Tempat ketujuh yang kami kunjungi adalah Masjid As Sua'ada yang terletak di Desa Wasah Hilir Kecamatan Simpur, atau sekitar 10 Km dari Makam Tumpang Talu. Masih bersama Drs H A Gazali Usman, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kandangan, di Masjid As Su'ada tersebut kami dijelaskan berbagai hal. Mulai dari sejarah pembangunan, hingga siapa saja yang terlibat dalam pembangunan masjid tersebut.

Pertama kali, Gazali menjelaskan bahwa ide mendirikan masjid tersebut dipelopori oleh Syekh H Abbas dengan pimpinan pelaksana Syekh H Muhammad Said bin H Sa'dudin pada tahun 1908 Masehi atau sekitar tahun 1328 Hijriah.

Menariknya, arsitektur masjid tersebut mempunyai makna tersendiri. Dikatakan Gazali, tiang utama masjid tersebut memiliki panjang sekitar 27 meter yang mana angka 27-nya itu merupakan symbol diawalinya salat wajib pada 27 Rajab.

Kemudian, bubungan atau atap yang dibangun tiga tingkat juga mempunyai makna tiga tingkatan ilmu agama. Tingkatan pertama adalah Syariat, tingkatan kedua Tarikat, sementara tingkatan ketiga adalah Ma'rifat. Sedangkan bagian paling atas yang biasa disebut Patala, merupakan tingkat kesempurnaan setelah Ma'rifat.

Menganai nama masjidnya sendiri, Gazali menceritakan bahwa nama tersebut diambil dari nama salah seorang pendirinya, yakni H Muhammad Said.

"Said (Syekh H Muhammad Said) berasal dari bahasa Arab yang artinya beruntung. Kata Said berubah menjadi Sa'ada, dan akhirnya menjadi Su'ada sebagaimana nama masjid ini sekarang," jelas Gazali.

Ditambahkan Gazali, ada beberapa kejadian di luar logika ketika pembangunan masjid tersebut. Diantaranya, ketika musyawarah hendak membangun masjid dilaksanakan di rumah H Abbas, seluruh peserta musyawarah sempat dikejutkan dengan angin topan. Parahnya, angina topan tersebut hamper saja merobohkan sebuah pohon besar kea rah rumah H Abbas temapt dilaksanakannya musyawarah. Untungnya, dengan keyakinan penuh Syekh H Muhammad Said yang juga turut mengikuti musyawarah berhasil mendorong pohon itu dan membuat angina berpindah arah, hingga pohon besar tadi pun jatuh ke tempat lain.

"Keanehan lainnya terjadi ketika rombongan Syekh H Muhammad Said mengangkut bahan bangunan. Ketika itu, di pertengahan Desa Kalumpang dengan Nagara, rombongan kehabisan lauk untuk makan. Namun tiba-tiba saja, seekor ikan melompat ke perahu yang digunakan oleh rombongan Syekh H Muhammad Said. Hingga rombongan pun tak jadi kehabisan lauk untuk makan," kata Gazali.

Puas mengdengarkan penjelasan mengenai Masjid As Su'ada, saya, peserta, dan panitia Laseda Kalsel gelaran Disbudpar Kalsel dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak pun bersiap melanjutkan perjalanan. Semula kami ingin ke Benteng Gunung Madang terlebih dahulu, namun karena saat itu sedang digunakan TNI AD untuk latihan menembak, lawatan pun kami seling dulu ke Tugu Bersejarah 17 Mei 1949, yakni tugu yang terletak di Desa Niih (Hulu Banyu) Kecamatan Loksado.

Tugu tersebut merupakan bukti sejarah telah dikumandangkannya sebuah proklamasi yang dikenal dengan nama Proklamasi 17 Mei yang menyatakan bahwa daerah Kalimantan merupakan suatu daerah yang tidak terpisahkan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Medan yang ditempuh untuk ke tugu tersebut lumayan berat. Meski jalannya cukup lebar dan beraspal, namun tak semua kendaraan roda empat bisa melewatinya. Karena, jalan yang dilalui merupakan jalan yang terkadang mendaki terkadang menurun curam. Alhasil, tak semua peserta lawatan bisa mengikutinya, karena hanya satu bus yang bisa digunakan untuk naik. Sementara bus yang satunya tak sanggup untuk melalui medan tersebut.

Setelah beberapa jam di Bersejarah 17 Mei 1949 dengan lingkungan alam yang asri, berupa pepohonan rindang dan air pegunungan yang mengalir deras, sekira pukul 14.00 Wita, kami kembali melanjutkan perjalan menuju Benteng Gunung Madang yang terletak di desa Madang Kecamatan Padang Batung.

Ketika kami sampai di kawasan tersebut, masih mendengar suara dentuman senjata TNI AD yang melakukan latihan. Setelah setengah jam kemudian, barulah suara itu sepi dan peserta lawatan diizinkan untuk naik ke benteng.

Sayangnya, karena medan menuju benteng tersebut juga sulit untuk dilalui, maka sebagian peserta hanya menunggu di bawah saja, atau sekutar 500 meter dari benteng. Parahnya, mobil yang bisa digunakan hanya mobil sekelas Kijang atau Carry saja, sementara bus tak bisa melewatinya. Alhasil, hanya sedikit peserta yang bisa naik ke benteng tersebut.

Usai melewati perjalanan sekitar 500 meter dengan menggunakan mobil, saya dan beberapa peserta lain yang ikut naik ke benteng mengira langsung sampai di tempat tujuan. Ternyata tidak, untuk sampai ke benteng kami ternyata harus mendaki ratusan anak tangga lagi terlebih dahulu.

Alhasil, Mayang, siswi SMA Negeri 6 Banjarmasin yang sebelumnya saya ajak berjalan kaki saja dari bawah, langsung mengejek saya. "Cuma 500 Meter saja, deket kok, heh," katanya penuh ejek.

Tak kurang 440 anak tangga kami lewati, setelah sampai di atas, ternyata tak ada bangunan tua pun yang kami jumpai di sana. "Benteng ini merupakan benteng penyerangan Pasukan Hidayat dan Demang Lehman ketika menghadapi serdadu belanda. Karena ini bukan benteng pertahanan, jadinya tak ada bangunan pertahanan pun di sini," jelas Drs H A Gazali Usman yang masih mendampingi kami. 

Setelah puas mendengarkan penjelasan, sekira pukul 17.00 Wita, kami pun bersiap kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan diri mengikuti serangkaian kegiatan besok harinya, yang merupakan hari terakhir lawatan sejarah yang kami lakukan. (habis)


Posted at 07:13 am by khai_ril
Make a comment  

Mengikuti Laseda Kalsel 2006 (5-bersambung)

 

Takut dengan Belanda, Jenazah Dimakamkan Tiga Sekaligus!

 

Kalau melihat areal pemakaman yang masing-masing liang hanya diisi dengan satu jenazah, tentu hal biasa. Tapi, kalau dalam satu liang ada tiga jenazah sekaligus? Tentunya akan menjadi hal yang tidak biasa. Pertanyaannya, mengapa dimakamkan langsung tiga, tidak satu-satu?

 

 

AZAN Subuh menggema merdu dari masjid besar yang berada tak begitu jauh dari hotel tempat kami (saya dan peserta Lawatan Sejarah Daerah Kalsel, red) menginap.

Tanpa ba..bi..bu lagi, kami pun langsung beranjak dari tempat tidur lalu segera membersihkan diri dan berangkat ke masjid tersebut untuk melaksanakan Salat Subuh berjamaah.

Usai salat, sedikit melemaskan badan setelah melalui perjalanan panjang sekaligus hendak melihat bagaimana Kota Kandangan, kami pun jalan-jalan mengitari seputaran pusat Kota Kandangan, mulai dari pasar, hingga terminal yang memang juga tak begitu jauh dari Hotel Bangkau dan Loksado Permai, tempat kami menginap.

Sekira pukul 07.30 Wita, kami disuguhi sedikit makan pagi di hotel untuk bekal kami melanjutkan perjalanan di hari kedua lawatan kami (6/7). Tempat pertama yang kami kunjungi di hari kedua lawatan kami tersebut adalah Makam Tumpang Talu, yang terletak di Kampung Parincahan Kandangan, sekitar 2 Kilometer dari pusat Kota.

Mendengar nama makamnya sendiri, bagi kita orang Banjar, tentu dapat memahami bahwa di makam tersebut terdapat tiga jenazah sekaligus dalam satu liang.

Drs H A Gazali Usman, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kandangan menjelaskan, makam tersebut adalah makam Buchori, Landuk, dan Matamin, tiga pejuang Kalsel yang gugur pada persitiwa pemberontakkan Amuk Hantarukung tanggal 19 September 1899.

Gazali menceritakan, Buchori yang terlahir dan besar di Puruk Cahu adalah orang kepercayaan Sultan Muhammad Seman, Putera Pangeran Antasari. Pada 1899, Buchori yang dikenal sebagai orang yang memiliki kesaktian dan kekebalan, diutus ke Hulu Sungai Selatan dan bertugas di Amandit. Ketika itu, Buchori menemui Pangeran Yu Ya yang memerintah kawasan Amandit untuk menghimpun kekuatan.

Di bawah prakarsa Buchori, sebagian warga yang sebelumnya dipaksa Kolonial Belanda untuk mengerjakan galian Amandit–Nagara, langsung melakukan perlawanan. Mereka tak lagi bersedia mengerjakan galian. Sayangnya, ulah Buchori yang berhasil mengkoordinir warga tersebut diketahui Kolonial Belanda.

Tanggal 18 September 1899, Belanda yang langsung dituruni Tuan Controler Domes dan Adapirant Wehonleshen mendatangi Pangeran Yu Ya untuk membunuhnya. Beruntung, ketika itu Buchori dan pasukannya datang. Dengan mengucap shalawat Nabi, Buchori dan pasukannya berhasil memukul mundur Kolonial Belanda, hingga Tuan Controler Domes dan Adapirant Wehonleshen serta seorang anak emasnya pun tewas terbunuh.

Melihat pimpinannya terbunuh, warga Hantarukung yang ikut Kolonial Belanda melakukan serangan balik pada 19 September 1899. Mereka mengamuk dan melakukan serangan besar-besaran. Pasukan Buchori yang hanya menggunakan senjata tradisional seperti parang, tombak, dan serapang tak berhasil membendung serangan Belanda yang menggunakan senjata api.

Hingga pada akhirnya, Buchori, Landuk, dan Matamin yang berada di barisan depan pun tewas terbunuh. Tak hanya itu, 23 pasukan Buchori lainnya berhasil ditangkap Belanda. Sembilan dari 23 pasukan itu tewas digantung, empat meninggal di penjara, sementara lainnya dibuang oleh Belanda.

“Semua yang tewas itu dimakamkan di beberapa tempat. Buchori, Landuk, dan Matamin di Desa Parincahan ini, yang lainnya ada di Pemakaman Bawah Tandu, Telapak Gajah, dan Amuk Hantarukung di Desa Hantarukung,” jelas Gazali.

Ditanya mengapa Buchori, Landuk, dan Matamin dimakamkan langsung dalam satu liang, secara historis kata Gazali memang tak pernah diceritakan. Namun, dari segi logika, ketika itu warga masih diselimuti dengan ketakutan terhadap kolonial Belanda, sehingga agar mempercepat proses pemakaman supaya tak diketahui Belanda, maka dimakamkanlah tiga sekaligus.

Usai mendengarkan penjelasan segala hal yang berkaitan dengan Makam Tumpang Talu, atas permintaan salah seorang guru yang juga peserta Laseda Kalsel 2006, lawatan dilanjutkan ke Pemakaman Amuk Hantarukung di Desa Hantarukung.

Setalah itu, barulah Laseda Kalsel gelaran Disbudpar Kalsel dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak yang diikuti perwakilan siswa-siswi dan guru sejarah di SMA/SMK se-Kota Banjarmasin, seperti SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 7 Plus, SMKN 1, dan SMKN 3 Banjarmasin, kembali mengikuti jadwal lawatan yang mengunjungi Masjid As Su’ada Desa Wasah Hilir, Benteng Gunung Madang, dan Tugu Bersejarah 17 Mei 1949. (bersambung)


Posted at 07:09 am by khai_ril
Comment (1)  

Next Page